REVOLUSI MENTAL
STRATEGI KEBUDAYAAN DALAM
MENGHADAPI BONUS DEMOGRAFI
karya: Suci Maulidya Paramitha
Indonesia
merupakan Negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk terbanyak ke empat di dunia.
Menurut Badan Pusat Statistik Indonesia, pada tahun 2010 Indonesia memiiki
237.641.326 penduduk. Dan di tahun 2015 ini, penduduk negeri ini diperkirakan
mencapai lebih dari 250 juta jiwa.
Menurut para
pakar, pada tahun 2020-2030, Indonesia mengalami sebuah fenomena besar, dimana
penduduk produktif (15-64 tahun) lebih besar jumlahnya atau sekitar 70%
dibandingkan jumlah penduduk muda (dibawah 15 tahun) dan lanjut usia (65
keatas) atau tidak produktif sebesar 30%; fenomena inilah yang disebut dengan
bonus demografi.
Disebutkan,
pada puncak bonus demografi kondisi demografi Indonesia diantara 100 penduduk
produktif, terdapat 44 penduduk muda dan lanjut usia. Oleh karena itu, bonus
demografi ini menjadi salah satu kekuatan bangsa Indonesia, sehingga perlu dikelola
dengan semaksimal mungkin.
Meningkatkan Kualitas
SDM
Dalam menghadapi bonus demografi tersebut, perlu banyak
hal yang harus dipersiapkan guna mencapai tujuan yang maksimal dalam , yaitu
pemanfaatan Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam. Sumber Daya Manusia (SDM) haruslah menjadi sumber daya yang berkualitas. Meskipun Indonesia mempunyai kekayaan
Sumber Daya Alam (SDA) yang banyak, tidak berarti pula bahwa Indonesia dapat
lebih maju dari Negara lainnya. Potensi utamanya berasal dari SDM berkualitas.
SDM berkualitas akan memiliki daya ungkit bertenaga super besar, terlebih
ketika bertemu dengan momentum demografi Indonesia yang akan terjadi antara
Tahun 2020-2030 mendatang.
Anak muda, sebagai generasi penerus
bangsa, haruslah mengaktualisasikan diri dalam menyambut bonus demografi ini. Peningkatan
jumlah penduduk produktif harus dibarengi dengan peningkatan kualitasnya agar
mampu bersaing dalam berkerja ataupun menciptakan lapangan kerja. Apalagi,
Indonesia akan memasuki perdagangan bebas dunia, yakni Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA). Maka agar Indonesia tidak kalah bersaing ataupun menjadi beban negara dari
bonus demografi tersebut, selain peningkatan SDM melalui pendidikan bermutu dan
layanan kesehatan, strategi berikutnya adalah mencetak pelaku usaha baru dengan
terus mengedukasi wirasusaha muda. Jika jumlah pengusaha
di Indonesia bisa bertambah maka akan turut mendongkrak ekonomi negara,
bertambahnya lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kualitas kesejahteraan
masyarakat.
Mahasiswa
sebagai agen penggerak perubahan yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan
suatu bangsa dipercaya mampu membawa perubahan bangsa ke arah yang lebih baik
dengan bekal pendidikan dan kemampuan yang dimiliki,memberikan bantuan serta membuka dan
menggerakan pasar.
Beberapa
negara di Asia keuntungan-keuntungan optimal dari bonus demografi mereka, yang tercermin
pada tingkat produktifitas dan kesejahteraan yang mereka nikmati. Bonus demografi hanya satu kali datang pada suatu bangsa.
Selama masa bonus demografi, setiap negara memiliki
peluang pembangunan lebih baik dengan meningkatnya angkatan kerja usia
produktif, yang juga memicu terjadinya peningkatan penawaran tenaga kerja yang
disertai naiknya tabungan masyarakat; keduanya menjadi sumber pertumbuhan
ekonomi.
Budaya dan
Agama
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan
mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan
serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan
lagi segala pernyataan intelektual, dan artistik yang menjadi ciri khas suatu
masyarakat.
Berbeda
dengan Andreas Eppink, Clifford Geertz berpendapat, bahwa budaya adalah simbol
yang membantu manusia memberikan makna atas pengalaman dan memberikan peta
dalam menafsirkan realitas. Begitupun juga dengan Benedict Anderson, yang
berpendapat bahwa agama sebagai bagian dari cultural artefacts, yang
berarti agama telah menjadi alat yang –melalui media the scared languages (bahasa-bahasa
suci)- bukan saja telah memungkinkan lahirnya the imagined communities, melainkan
juga memberikan rasa optimisme kepada manusia; bahwa di balik penderitaan
manusia di dunia fana ini akan ada sesuatu yang lebih baik “di dunia
berikutnya”.
Nusantara,
yakni cikal bakal lahirnya Indonesia, sangat berbeda dengan masyarakat Barat
yang cenderung sekuler atau menganut paham sekularisme. Nusantara (baca:
Indonesia) dalam sejarahnya, baik dalam sejarah nenek moyang maupun sejarah
berdirinya Republik Indonesia, budaya-budaya yang tercipta sangat kental sekali
dengan unsur agama sebagai latar belakang terbentuknya budaya itu sendiri.
Oleh karena
Indonesia pada dasarnya telah terbiasa dengan perpaduan budaya dan agama, maka
tak heran bila negara ini lahir atas dasar nasionalisme (baca: budaya) yang
didasarkan pada pandangan agama. Sebab, hal itulah (faktor sejarah) yang
mengabarkan kepada alam untuk mengarahkan para pendiri bangsa agar berpatukan
kepada agama sebagai dasar negara Republik Indonesia –sebagaimana yang tertuang
dalam pancasila dan pembukaan Undang-Undang Dasar-dengan menyebutkan “rahmat
Tuhan Yang Maha Esa....” yang mengindikasikan kepada seluruh rakyatnya, bahkan
dunia, bahwa bangsa ini adalah bangsa yang religius.
Adapun
hubungannya dengan revolusi mental, strategi mentransformasikan semangat dan
gagasan keagamaan menawarkan optimisme ke dalam sebuah sistem budaya
nasionalisme yang konkret, untuk kemudian semangat nasionalisme ini membangun
sebuah optimisme yang tak terbatas kepada rakyat. Dengan optimisme itu,
masyarakat akan menjadi lebih kreatif, inovatif, tak pantang menyerah, dalam
mengahadapi masalah-masalah bangsa ini di masa yang akan datang.
Singkatnya,
peningkatan kualitas SDM juga harus dibarengi dengan penanaman budaya
Indoensia, sebagai landasan mental yang tangguh dan cemerlang dalam menghadapi
bonus demografi; mental tangguh itulah yang kemudian menjadikan masyarakat
Indonesia sebagai masyarakat yang berkarakter. Jika ini berhasil, maka tak akan
ada yang bisa menghalangi Indonesia untuk menguasai dunia ini, baik dalam
sektor ekonomi, politik, dan sosial budaya.
Berkaca Pada
Sejarah
Di dalam bukunya yang berjudul “The 100”,
Michael Hart mengatakan:“Memilih Muhammad sebagai orang pertama yang terpenting
dan teragung sebagai tokoh sejarah telah mengejutkan para pembaca. Namun, dia
(Muhammad) adalah satu-satunya tokoh dalam sejarah yang berjaya dengan kejayaan
sangat hebat pada tingkat Agama dan dunia.........”.
Sejarah
mencatat, bahwa hanya dalam tempo 23 tahun, Muhammad saw. mampu membangun
sebuah komunitas masyarakat Islam (kaum Muslimin) yang sangat luar biasa.
Kemudian, sepeninggal beliau, para pengikutnya justru mengukir prestasi yang tak
kalah dahsyat, dengan menguasai 2/3 bagian bumi hanya dalam kurun waktu satu
Abad.
Dengan meletakan pondasi yang kuat, baik
kepada pengikutnya dan negara, Muhammad saw. dapat membangun sebuah peradaban
baru yang reformasinya masih bisa dirasakan hingga saat ini. Dalam memulai
perjuangannya membentuk sebuah komunitas yang kuat, Muhammad saw. memulainya
dengan pembinaan iman atau dalam bahasa global yakni memulai dengan menanamkan
budaya. Budaya itulah yang kemudian menggerakan jiwa-jiwa yang handal dalam
usaha memperluas agama Islam.
Dalam
menghadapi bonus demografi, sudah sepatutnya negara ini mempersiapkan sebuah
gagasan dalam membenahi mental bangsa ini (selain menyiapkan hal-hal pendukung
lainnya dalam menyambut bonus demografi). Maka dari itu,
kami sangat mengapresiasi bapak Presiden Republik Indonesia yang mencanangkan
revolusi mental sebagai langkah strategis dalam merintis langkah menuju
Indonesia berdikari. Semoga Indonesia semakin jaya. Aamin
Komentar
Posting Komentar